Senin, 30 Maret 2020

PEMERIKSAAN FISIK PER SYSTEM


MAKALAH
PEMERIKSAAN FISIK PER SYSTEM

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Dasar III





                                                                 Dosen Pengampu
Roni Setyawan, S.Kep., Ns

 






Oleh Kelompok 2
Beny Abdurohim                    (2019030139)
Firda Mila T.M.S                    (2019030002)
Lutfiyah Riza U.                     (2019030007)
Mitha Laras Sonia P.               (2019030013)
Nur Wasilatul A.D.P.              (2019030009)
Silviana Nur C.                       (2019030010)
Winda Sri Lestari S.                (2019030012)



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG
2019/2020



Segala puji bagi Allah SWT, karena dengan taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan “Makalah Pemeriksaan Fisik Per System” ini dengan sebaik-sebaiknya sesuai waktu yang telah ditentukan.
Di dalam makalah ini, akan dipaparkan mulai dari definisi pemeriksaan fisik, tujuan dan manfaat pemeriksaan fisik, metode dan langkah, jenis-jenis pemeriksaan fisik, dan cara pemeriksaan fisik per system.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita dan pembaca dapat belajar dengan baik dan benar mengenai pemeriksaan fisik per system.








Jombang, 27 Maret 2020









PEMBAHASAN
Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaan akan dicatat dalam rekam medis. Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien. Biasanya, pemeriksaan fiisk dilakukan secra sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak.
Setelah pemeriksaan organ utama diperiksa dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi, beberapa tes khusus mungkin diperlukan seperti neurologi. Dengan petunjuk yang didapat selama pemeriksaan riwayat dan fisik, ahli medis dapat menyusun sebuah diagnosis diferensial, yakni sebuah daftar penyebab yang mungkin menyebabkan gejala tersebut. Beberapa tes akan dilakukan untuk meyakinkan penyebab tersebut. Sebuah pemeriksaan yang lengkap akan terdiri dari penilaian kondisi pasien secara umum dan system organ yang spesifik. Dalam prakteknya, tanda vital atau pemeriksaan suhu, nadi, dan tekanan darah selalu dilakukan pertama kali.

1.      Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan fisik?
2.      Apa tujuan dan manfaat pemeriksaan fisik?
3.      Bagaimana metode dan langkah dari pemeriksaan fisik?
4.      Apa saja jenis pemeriksaan fisik?
5.      Bagaimana cara pemeriksaan fisik per system?

1.      Mengetahui definisi pemeriksaan fisik
2.      Memahami tujuan dan manfaat pemeriksaan fisik
3.      Mengetahui metode dan langkah pemeriksaan fisik
4.      Mengetahui jenis-jenis pemeriksaan fisik
5.      Mengetahui tentang pemeriksaan fisik per system
PEMBAHASAN
Pemeriksaan fisik adalah sebuah proses dari seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit (Hidayat, 2004). Pemeriksan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan-kelainan dari suatu sistim atau suatu organ tubuh dengan cara melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk (perkusi) dan mendengarkan (auskultasi). (Raylene M Rospond,2009; Terj D. Lyrawati,2009).
Pemeriksaan fisik adalah metode pengumpulan data yang sistematik dengan memakai indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan rasa untuk mendeteksi masalah kesehatan klien. Untuk pemeriksaan fisik perawat menggunakan teknik inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi (Craven & Hirnle, 2000; Potter & Perry, 1997; Kozier et al., 1995). Pemeriksaan fisik merupakan tahap awal dari proses keperawatan (WHO, 2006 dalam Ely, 2008).
Pemeriksaan fisik dalam keperawatan digunakan untuk mendapatkan data objektif dari riwayat keperawatan klien. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan bersamaan dengan wawancara. Fokus pengkajian fisik keperawatan adalah pada kemampuan fungsional klien. Misalnya , klien mengalami gangguan sistem muskuloskeletal, maka perawat mengkaji apakah gangguan tersebut mempengaruhi klien dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari atau tidak.
2.2.1  Tujuan pemeriksaan fisik secara umum:
1.      Untuk mengumpulkan dan memperoleh data dasar tentang kesehatan klien.
2.      Untuk menambah, mengkonfirmasi, atau menyangkal data yang diperoleh dalam riwayat keperawatan.
3.      Untuk mengkonfirmasi dan mengidentifikasi diagnosa keperawatan.
4.      Untuk membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan penatalaksanaan.
5.      Untuk mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan keperawatan.
2.2.2  Manfaat pemeriksaan fisik:
1.      Sebagai data untuk membantu perawat dalam menegakkan diagnose keperawatan.
2.      Mengetahui masalah kesehatan yang di alami klien.
3.       Sebagai dasar untuk memilih intervensi keperawatan yang tepat
4.      Sebagai data untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan
2.3.1  Inspeksi
1.      Definisi
Inspeksi adalah suatu tindakan pemeriksa dengan menggunakan indera penglihatannya untuk mendeteksi karakteristik normal atau tanda tertentu dari bagian tubuh atau fungsi tubuh pasien. Inspeksi digunakan untuk mendeteksi bentuk, warna, posisi, ukuran, tumor dan lainnya dari tubuh pasien.
2.      Cara pemeriksaan
1)      Posisi pasien dapat tidur, duduk atau berdiri
Bagian tubuh yang diperiksa harus terbuka (diupayakan pasien membuka sendiri pakaiannya Sebaiknya pakaian tidak dibuka sekaligus, namun dibuka seperlunya untuk pemeriksaan sedangkan bagian lain ditutupi selimut).
2)      Bandingkan bagian tubuh yang berlawanan (kesimetrisan) dan abnormalitas.
3)      Catat hasilnya
2.3.2  Palpasi
1.      Definisi
Palpasi adalah suatu tindakan pemeriksaan yang dilakukan dengan perabaan dan penekanan bagian tubuh dengan menggunakan jari atau tangan. Palpasi dapat digunakan untuk mendeteksi suhu tubuh, adanya getaran, pergerakan, bentuk, kosistensi dan ukuran. Rasa nyeri tekan dan kelainan dari jaringan/organ tubuh. Dengan kata lain bahwa palpasi merupakan tindakan penegasan dari hasil inspeksi, disamping untuk menemukan yang tidak terlihat.
2.      Cara pemeriksaan 
1)      Posisi pasien bisa tidur, duduk atau berdiri tergantung bagian mana yang diperiksa dan Bagian tubuh yang diperiksa harus terbuka
2)      Pastikan pasien dalam keadaan rilek dengan posisi yang nyaman untuk menghindari ketegangan otot yang dapat mengganggu hasil pemeriksaan 
3)      Kuku jari-jari pemeriksa harus pendek, tangan hangat dan kering 
4)      Minta pasien untuk menarik napas dalam agar meningkatkan relaksasi otot.
5)      Lakukan Palpasi dengan sentuhan perlahan-lahan yaitu dengan tekanan ringan dan sebentar-sebentar.
6)      Palpasil daerah yang dicurigai, adanya nyeri tekan menandakan kelainan 
7)      Lakukan Palpasi secara hati-hati apabila diduga adanya fraktur tulang.
8)      Hindari tekanan yang berlebihan pada pembuluh darah.
9)      Lakukan Palpasi ringan apabila memeriksa organ/jaringan yang dalamnya kurang dari 1 cm. 
10)  Lakukan Palpasi agak dalam apabila memeriksa organ/jaringan dengan kedalaman 1 - 2,5 cm.
11)  Lakukan Palpasi bimanual apabila melakukan pemeriksaan dengan kedalaman lebih dari 2,5 cm. Yaitu dengan mempergunakan kedua tangan dimana satu tangan direlaksasi dan diletakkan dibagian bawah organ/jaringan tubuh, sedangkan tangan yang lain menekan kearah tangan yang dibawah untuk mendeteksi karakteristik organ/ jaringan.
12)  Rasakan dengan seksama kelainan organ/jaringan, adanya nodul, tumor bergerak/tidak dengan konsistensi padat/kenyal, bersifat kasar/lembut, ukurannya dan ada/tidaknya getaran/ trill, serta rasa nyeri raba / tekan .
13)  Catatlah hasil pemeriksaan yang didapat  
2.3.3  Perkusi
1.      Definisi
Perkusi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi getaran/ gelombang suara yang dihantarkan kepermukaan tubuh dari bagian tubuh yang diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan ketokan jari atau tangan pada permukaan tubuh. Perjalanan getaran/ gelombang suara tergantung oleh kepadatan media yang dilalui. Derajat bunyi disebut dengan resonansi. Karakter bunyi yang dihasilkan dapat menentukan lokasi, ukuran, bentuk, dan kepadatan struktur di bawah kulit. Sifat gelombang suara yaitu semakin banyak jaringan, semakin lemah hantarannya dan udara/ gas paling resonan
2.      Cara pemeriksaan
1)      Posisi pasien dapat tidur, duduk atau berdiri tergantung pada bagian mana yang akan diperiksa dan bagian tubuh yang diperiksa harus terbuka
2)      Pastikan pasien dalam keadaan rilek dan posisi yang nyaman untuk menghindari ketegangan otot yang dapat mengganggu hasil perkusi.
3)      Minta pasien untuk menarik napas dalam agar meningkatkan relaksasi otot.
4)      Kuku jari-jari pemeriksa harus pendek, tangan hangat dan kering.
5)      Lakukan perkusi secara seksama dan sistimatis yaitu dengan :
1.      Metode langsung yaitu melakukan perkusi atau mengentokan jari tangan langsung dengan menggunakan 1 atau 2 ujung jari.
2.      Metode tidak langsung dengan cara sebagai berikut: Jari tengah tangan kiri di letakkan dengan lembut di atas permukaan tubuh, Ujung jari tengah dari tangan kanan untuk mengetu persendian, Pukulan harus cepat dengan lengan tidak bergerak dan pergelangan tangan rilek, Berikan tenaga pukulan yang sama pada setiap area tubuh.
6)      Bandingkan atau perhatikan bunyi yang dihasilkan oleh perkusi.
1.      Bunyi timpani mempunyai intensitas keras, nada tinggi, waktu agak lama dan kualitas seperti drum (lambung).
2.      Bunyi resonan mempunyai intensitas menengah, nada rendah, waktu lama, kualitas bergema (paru normal).
3.      Bunyi hipersonar mempunyai intensitas amat keras, waktu lebih lama, kualitas ledakan (empisema paru).
4.      Bunyi pekak mempunyai intensitas lembut sampai menengah, nada tinggi, waktu agak lama kualitas seperti petir (hati).
5.      Bunyi kempes mempunyai intensitas lembut, nada tinggi, waktu pendek, kualitas datar (otot).
2.3.4  Auskultasi
1.      Definisi
Aukultasi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi yang terbentuk di dalam organ tubuh. Hal ini dimaksudkan untuk mendeteksi adanya kelainan dengan cara membandingkan dengan bunyi normal. Auskultasi yang dilakukan di dada untuk mendengar suara napas dan bila dilakukan di abdomen mendengarkan suara bising usus. 
2.      Penilaian pemeriksaan auskultasi meliputi :
1)      Frekuensi yaitu menghitung jumlah getaran permenit. 
2)      Durasi yaitu lama bunyi yang terdengar.
3)      Intensitas bunyi yaitu ukuran kuat/ lemahnya suara 
4)      Kualitas yaitu warna nada/ variasi suara. 
3.      Cara pemeriksaan
1)      Posisi pasien dapat tidur, duduk atau berdiri tergantung bagian mana yang diperiksa dan bagian tubuh yang diperiksa harus terbuka
2)      Pastikan pasien dalam keadaan rilek dengan posisi yang nyaman 
3)      Pastikan stetoskop sudah terpasang baik dan tidak bocor antara bagian kepala, selang dan telinga
4)      Pasanglah ujung steoskop bagian telinga ke lubang telinga pemeriksa sesuai arah, ukuran dan lengkungannya. Stetoskop telinga 
5)      Hangatkan dulu kepala stetoskop dengan cara menempelkan pada telapak tangan pemeriksa atau menggosokan pada pakaian pemeriksa
6)      Tempelkan kepala stetoskop pada bagian tubuh pasien yang akan diperiksa dan lakukan pemeriksaan dengan seksama dan sistimatis
7)      Pergunakanlah bel stetoskop untuk mendengarkan bunyi bernada rendah pada tekanan ringan yaitu pada bunyi jantung dan vaskuler dan gunakan diafragma untuk bunyi bernada tinggi seperti bunyi usus dan paru
8)      Informasikan hasil pemeriksaan dan catat pada status.
1.      Pemeriksaan fisik head to toe
Pemeriksaan fisik head to toe adalah pemeriksaan fisik dari ujung kepala sampai ujung kaki.
2.      Pemeriksaan fisik persistem
Pemeriksaan fisik persistem adalah pemeriksaan fisik di daerah tertentu saja, misalkan kita ingin mengetahui keadaan jantung seorang pasien, kita cukup melakukan pemeriksaan di daerah dada saja.
2.5.1        Sistem Pencernaan
1.      Cara inspeksi
1)      Pasien berbaring terlentang dengan kedua tangan di sisi tubuh.
2)      Inspeksi cavum oris, lidah untuk melihat ada tidaknya kelainan.
2)Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala untuk melemaskan/relaksasi otot- otot abdomen.
2)Perhatikan ada tidaknya penegangan abdomen.
3)      Pemeriksa berdirilah pada sisi kanan pasien dan perhatikan kulit dan warna abdomen, bentuk perut, simetrisitas, jaringan parut, luka, pola vena, dan striae serta bayangan vena dan pergerakkan abnormal.
4)      Perhatikan posisi, bentuk, warna, dan inflamasi dari umbilikus.
5)      Perhatikan pula gerakan permukaan, massa, pembesaran atau penegangan. Bila abdomen tampak menegang, minta pasien untuk berbalik kesamping dan inspeksi mengenai ada tidaknya pembesaran area antara iga-iga dan panggul, tanyakan kepada pasien apakah abdomen terasa lebih tegang dari biasanya.
6)      Bila terjadi penegangan abdomen, ukur lingkar abdomen dengan memasang tali/perban seputar abdomen melalui umbilikus. Buatlah simpul dikedua sisi tali/perban untuk menandai dimana batas lingkar abdomen, lakukan monitoring, bila terjadi peningkatan perenggangan abdomen, maka jarak kedua simpul makin menjauh.
7)      Inspeksi abdomen untuk gerakan pernapasan yang normal.
7)Mintalah pasien mengangkat kepalanya dan perhatikan adanya gerakan peristaltik atau denyutan aortik.
2.      Cara palpasi abdomen
1)      Posisi pasien berbaring terlentang dan pemeriksa disebelah kanannya.
2)      Lakukan palpasi ringan di tiap kuadran abdomen dan hindari area yang telah diketahui sebelumnya sebagai titik bermasalah, seperti apendisitis.
3)      Tempatkan tangan pemeriksa diatas abdomen secara datar, dengan jari- jari ekstensi dan berhimpitan serta pertahankan sejajar permukaan abdomen.
4)      Palpasi dimulai perlahan dan hati-hati dari superfisial sedalam 1 cm untuk mendeteksi area nyeri, penegangan abnormal atau adanya massa.
5)      Bila otot sudah lemas dapat dilakukan palpasi sedalam 2,5 – 7,5 cm, untuk mengetahui keadaaan organ dan mendeteksi adanya massa yang kurang jelas teraba selama palpasi
6)      Perhatikan karakteristik dari setiap massa pada lokasi yang dalam, meliputi ukuran, lokasi, bentuk, konsistensi, nyeri, denyutan dan gerakan
7)      Perhatikan wajah pasien selama palpasi untuk melihat adanya tanda/ rasa tidak nyaman.
8)      Bila ditemukan rasa nyeri, uji akan adanya nyeri lepas, tekan dalam kemudian lepas dengan cepat untuk mendeteksi apakah nyeri timbul dengan melepaskan tekanan.
9)      Minta pasien mengangkat kepala dari meja periksa untuk melihat kontraksi otot-otot abdominal
3.      Cara palpasi hepar
1)      Posisi pasien tidur terlentang.
2)      Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
3)      Letakkan tangan kiri pemeriksa dibawah torak/ dada kanan posterior pasien pada iga kesebelas dan keduabelas dan tekananlah kearah atas.
4)      Letakkan telapak tangan kanan di atas abdomen, jari-jari mengarah ke kepala /superior pasien dan ekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikular di bawah batas bawah hati.
5)      Kemudian tekanlah dengan lembut ke dalam dan ke atas.
6)      Minta pasien menarik napas dan cobalah meraba tepi hati saat abdomen mengempis.
4.      Cara palpasi kandung empedu
1)      Posisi pasien tidur terlentang.
2)      Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
3)      Letakkan telapak tangan kiri pemeriksa dibawah dada kanan posterior pasien pada iga XI dan XII dan tekananlah kearah atas.
4)      Letakkan telapak tangan kanan di atas abdomen, jari-jari mengarah ke kepala /superior pasien dan ekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikular di bawah batas bawah hati
5)      Kemudian tekan lembut ke dalam dan ke atas.
6)      Mintalah pasien menarik napas dan coba meraba tepi hati saat abdomen mengempis.
7)      Palpasi di bawah tepi hati pada sisi lateral dari otot rektus.
8)      Bila diduga ada penyakit kandung empedu, minta pasien untuk menarik napas dalam selama palpasi.
5.      Cara palpasi limpa
1)      Posisi pasien tidur terlentang
2)      Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien
3)      Letakkan secara menyilang telapak tangan kiri pemeriksa di bawah pinggang kiri pasien dan tekanlah keatas.
4)      Letakkan telapak tangan kanan dengan jari-jari ektensi diatas abdomen dibawah tepi kiri kostal.
5)      Tekanlah ujung jari kearah limpa kemudian minta pasien untuk menarik napas dalam.
6)      Palpasilah tepi limpa saat limpa bergerak ke bawah kearah tangan pemeriksa
7)      Apabila dalam posisi terlentang tidak bisa diraba, maka posisi pasien berbaring miring kekanan dengan kedua tungkai bawah difleksikan. Pada keadaan tertentu diperlukan Schuffner test
6.      Cara palpasi aorta
1)      Posisi pasien tidur terlentang
2)      Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien
3)      Pergunakan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan.
4)      Palpasilah dengan perlahan namun dalam ke arah abdomen bagian atas tepat garis tengah.



7.      Cara auskultasi
1)      Pasien berbaring terlentang dengan tangan dikedua sisi.
2)      Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala.
3)      Letakkan kepala stetoskop sisi diafragma di daerah kuadran kiri bawah. Berikan tekanan ringan, minta pasien agar tidak berbicara. Bila mungkin diperlukan 5 menit terus menerus untuk mendengar sebelum pemeriksaan menentukan tidak adanya bising usus.
4)      Dengarkan bising usus apakah normal, hiperaktif, hipoaktif, tidak ada bising usus dan perhatikan frekwensi/karakternya.
5)      Bila bising usus tidak mudah terdengar, lanjutkan pemeriksaan dengan sistematis dan dengarkan tiap kuadran abdomen.
6)      Kemudian gunakan sisi bel stetoskop, untuk mendengarkan bunyi desiran dibagian epigastrik dan pada tiap kuadran diatas arteri aortik, ginjal, iliaka, femoral dan aorta torakal. Pada orang kurus mungkin dapat terlihat gerakan peristaltik usus atau denyutan aorta.
8.      Cara perkusi abdomen
Lakukan perkusi di empat kuadran dan perhatikan suara yang timbul pada saat melakukannya dan bedakan batas-batas dari organ dibawah kulit. Organ berongga seperti lambung, usus, kandung kemih berbunyi timpani, sedangkan bunyi pekak terdapat pada hati, limfa, pankreas, ginjal.
9.      Cara perkusi batas hati
1)      Posisi pasien tidur terlentang dan pemeriksa berdirilah disisi kanan pasien.
2)      Lakukan perkusi pada garis midklavikular kanan setinggi umbilikus, geser perlahan keatas, sampai terjadi perubahan suara dari timpani menjadi pekak, tandai batas bawah hati tersebut.
3)      Ukur jarak antara subcostae kanan kebatas bawah hati.
4)      Batas hati bagian bawah berada ditepi batas bawah tulang iga kanan.
5)      Batas hati bagian atas terletak antara celah tulang iga ke5 sampai kecelah tulang iga ke7
6)      Jarak batas atas dengan bawah hati berkisar 6 – 12 cm dan pergerakan bagian bawah hati pada waktu bernapas yaitu berkisar 2–3 cm.
10.  Cara perkusi lambung
1)      Posisi pasien tidur terlentang.
2)      Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
3)      Lakukan perkusi pada tulang iga bagian bawah anterior dan bagian epigastrium kiri.
4)      Gelembung udara lambung bila di perkusi akan berbunyi timpani.
2.5.2        Sistem perkemihan
1.      Cara inspeksia.
1)      Kaji kebiasaan pola BAK, output/jumlah urine 24 jam, warna, kekeruhan danada/tidaknya sedimen.
2)      Kaji keluhan gangguan frekuensi BAK, adanya dysuria dan hematuria, serta riwayat infeksi saluran kemih.
3)      Inspeksi penggunaan condom catheter, folleys catheter, silikon kateter atau urostomy atau supra pubik kateter.
4)      Kaji kembali riwayat pengobatan dan pengkajian diagnostik yang terkait dengan sistem perkemihan.
2.      Cara palpasi
1)      Palpasi adanya distesi bladder (kandung kemih)
2)      Untuk melakukan palpasi
Ginjal Kanan: Posisi di sebelah kanan pasien. Tangan kiri diletakkan di belakang penderita, paralel pada costa ke-12, ujung cari menyentuh sudut costovertebral (angkat untuk mendorong ginjal ke depan).Tangan kanan diletakkan dengan lembut pada kuadran kanan atas di lateral ototrectus, minta pasien menarik nafas dalam, pada puncak inspirasi tekan tangankanan dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal di antar kedua tangan (tentukan ukuran, nyeri tekan ga). Pasien diminta membuang nafas danberhenti napas, lepaskan tangan kanan, dan rasakan bagaimana ginjal kembaliwaktu ekspirasi.
3)      Dilanjutkan dengan palpasi
Ginjal Kiri : Pindah di sebelah kiri penderita,Tangan kanan untuk menyangga dan mengangkat dari belakan. Tangan kiridiletakkan dengan lembut pada kuadran kiri atas di lateral otot rectus, mintapasien menarik nafas dalam, pada puncak inspirasi tekan tangan kiri dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal di antar kedua tangan(normalnya jarang teraba).Cara perkusiUntuk pemeriksaan ketok ginjal prosedur tambahannya dengan mempersilahkanpenderita untuk duduk menghadap ke salah satu sisi, dan pemeriksa berdiri dibelakang penderita. Satu tangan diletakkan pada sudut kostovertebra kanan setinggivertebra torakalis 12 dan lumbal 1 dan memukul dengan sisi ulnar dengan kepalantangan (ginjal kanan). Satu tangan diletakkan pada sudut kostovertebra kanansetinggi vertebra torakalis 12 dan lumbal 1 dan memukul dengan sisi ulnar dengankepalan tangan (ginjal kiri). Penderita diminta untuk memberiksan respons terhadappemeriksaan bila ada rasa sakit.
2.5.3        Sistem Integumen
1.      Cara inspeksia.
1)      Kaji integritas kulit warna flushing, cyanosis, jaundice, pigmentasi yang tidakteratur
2)      Kaji membrane mukosa, turgor, dan keadaan umum, kulit
3)      Kaji bentuk, integritas, warna kuku.
4)      Kaji adanya luka, bekas operasi/skar, drain, dekubitus.



2.      Cara palpasia.
1)      Adanya nyeri, edema, dan penurunan suhu.
2)      Tekstur kulit.
3)      Turgor kulit, normal < 3 detik
4)      Area edema dipalpasi untuk menentukan konsistensi, temperatur, bentuk,mobilisasi.
5)      Palpasi Capillary refill time : warna kembali normal setelah 3 – 5 detik.
2.5.4        Sistem cardiovaskuler
1.      Cara inspeksi
Jantung, secara topografi jantung berada di bagian depan rongga mediastinum. Dilakukan inspeksi pada prekordial penderita yang berbaring terlentang atau dalam posisi sedikit dekubitus lateral kiri karena apek kadang sulit ditemukan misalnya pada stenosis mitral. dan pemeriksa berdiri disebelah kanan penderita. Pulsasi ini letaknya sesuai dengan apeks jantung. Diameter pulsasi kira-kira 2 cm, dengan punctum maksimum di tengah-tengah daerah tersebut. Pulsasi timbul pada waktu sistolis ventrikel. Bila ictus cordis bergeser ke kiri dan melebar. kemungkinan adanya pembesaran ventrikel kiri.
2.      Cara Palpasi
Dalam keadaaan normal dengan sikap duduk, tidur terlentang atau berdiri iktus terlihat didalam ruangan interkostal V sisi kiri agak medial dari linea midelavicularis sinistra. Pada anak-anak iktus tampak pada ruang interkostal IV denyutan nadi pada dada Apabila di dada bagian atas terdapat denyutan maka harus curiga adanya kelainan pada aorta. Aneurisma aorta ascenden dapat menimbulkan denyutan di ruang interkostal II kanan, sedangkan denyutan dada di daerah ruang interkostal II kiri menunjukkan adanya dilatasi a pulmonalis dan aneurisma aorta descenden.
Getaran/Trhill adanya getaran seringkali menunjukkan adanya kelainan katup bawaan atau penyakit jantung kongenital. Getaran yang lemah akan lebih mudah dipalpasi apabila orang tersebut melakukan pekerjaan fisik karena frekuensi jantung dan darah akan mengalir lebih cepat. Dengan banyak getaran maka pada auskultasi nantinya akan terdengar bising jantung.
3.      Cara Perkusi
Kita melakukan perkusi untuk menetapkan batas-batas jantung. Perkusi jantung mempunyai arti pada dua macam penyakit jantung yaitu efusi perikardium dan aneurisma aorta.
Batas kiri jantung
1)      Kita melakukan perkusi dari arah lateral ke medial
2)      Perubahan antara bunyi sonor dari paru-paru ke redup relatif kita tetapkan sebagai batas jantung kiri.
3)      Normal: Atas: ICS I kiri di lica parasternalis kiri (pinggang jantung) Bawah: ICS V kiri agak ke medial linea midklavikularis kiri (tempat iktus)
Batas Kanan Jantung
1)      Perkusi juga dilakukan dari arah lateral ke medial
2)      Disini agak sulit menentukan batas jantung karena letaknya agak jauh dari dinding depan thorak Perkusi juga dilakukan dari arah lateral ke medial
3)      Normal : Batas bawah kanan jantung adalah di sekitar ruang interkostal III-IV kanan, di linea parasternalis kanan.
4)      Sedangkan batas atasnya di ruang interkostal II kanan linea parasternalis kanan.
4.      Cara auskultasi
Auskultasi bunyi jantung dilakukan pada tempat-tempat sebagai berikut :
1)      Dengarkan BJ I pada:
        ICS IV line sternalis kiri (BJ I Tricuspidalis)
        ICS V line midclavicula/ICS III linea sternalis kanan (BJ I Mitral)



2)      Dengarkan BJ II pada :
        ICS II lines sternalis kanan (BJ II Aorta)
        ICS II linea sternalis kiri/ICS III linea sternalis kanan (BJ II Pulmonal)Dengarkan BJ III (kalau ada)
        Terdengar di daerah mitral
        BJ III terdengar setelah BJ II dengan jarak cukup jauh, tetapi tidak melebihiseparo dari fase diastolik, nada rendah
        Pada anak-anak dan dewasa muda, BJ III adalah normal
        Pada orang dewasa/tua yang disertai tanda-tanda oedema/dipneu, BJ III merupakan tanda abnormal.
        BJ III pada decomp. disebut Gallop Rythm.
Dari jantung yang normal dapat didengar lub-dub, lub-dub, lub-dub. Lub adalahsuara penutupan katup mitral dan katup trikuspid, yang menandai awalsistole. Dub adalah suara katup aorta dan katup pulmonalis sebagai tanda awal diastole. Pada suara dub, apabila pasien bernafas akan terdengar suara yang terpecah.
2.5.5        Sistem pernafasan
1.      Cara inspeksi.
1)      Pemeriksaan dada dimulai dari thorax posterior, klien pada posisi duduk.
2)      Dada diobservasi dengan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya.
3)      Inspeksi thorax poterior terhadap warna kulit dan kondisinya, lesi, massa,gangguan tulang belakang seperti : kyphosis, scoliosis dan lordosis, jumlahirama, kedalaman pernafasan, dan kesimetrisan pergerakan dada.
4)      Observasi type pernafasan, seperti : pernafasan hidung atau pernafasandiafragma, dan penggunaan otot bantu pernafasan.
5)      Saat mengobservasi respirasi, catat durasi dari fase inspirasi (I) dan faseekspirasi (E). ratio pada fase ini normalnya 1 : 2. Fase ekspirasi yangmemanjang menunjukkan adanya obstruksi pada jalan nafas dan seringditemukan pada klien Chronic Airflow Limitation (CAL)/COPD.
6)      Kaji konfigurasi dada dan bandingkan diameter anteroposterior (AP) dengandiameter lateral/tranversal (T). ratio ini normalnya berkisar 1:2 sampai 5:7,tergantung dari cairan tubuh klien.
7)      Kelainan pada bentuk dada :
        Barrel Chest, Timbul akibat terjadinya overinflation paru. Terjadi peningkatan diameter AP : T (1:1), sering terjadi pada klien emfisema.
        Funnel Chest (Pectus Excavatum), Timbul jika terjadi depresi dari bagian bawah dari sternum. Hal ini akan menekan jantung dan pembuluh darah besar, yang mengakibatkan murmur. Kondisi ini dapat timbul pada ricketsia, marfan‟s syndrome atau akibat kecelakaan kerja.
        Pigeon Chest (Pectus Carinatum), Timbul sebagai akibat dariketidaktepatan sternum, dimana terjadi peningkatan diameter AP. Timbul pada klien dengan kyphoscoliosis berat.
        Kyphoscoliosis, Terlihat dengan adanya elevasi scapula. Deformitas iniakan mengganggu pergerakan paru-paru, dapat timbul pada klien denganosteoporosis dan kelainan muskuloskeletal lain yang mempengaruhi thorax.
        Kiposis ,meningkatnya kelengkungan normal kolumna vertebrae torakalismenyebabkan klien tampak bongkok.
        Skoliosis : melengkungnya vertebrae torakalis ke lateral, disertai rotasivertebral.
8)      Observasi kesimetrisan pergerakan dada. Gangguan pergerakan atau tidakadekuatnya ekspansi dada mengindikasikan penyakit pada paru atau pleura.
9)      Observasi retraksi abnormal ruang interkostal selama inspirasi, yang dapatmengindikasikan obstruksi jalan nafas.



2.      Cara palpasi.
1)      Dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan mengobservasiabnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit dan mengetahui vocal premitus(vibrasi).
2)      Palpasi thoraks untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi seperti: massa, lesi, bengkak.
3)      Kaji juga kelembutan kulit, terutama jika klien mengeluh nyeri.
4)      Vocal premitus : getaran dinding dada yang dihasilkan ketika berbicara.
3.      Cara auskultasi.
1)      Merupakan pengkajian yang sangat bermakna, mencakup mendengarkan suaranafas normal, suara tambahan (abnormal), dan suara.
2)      Suara nafas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan nafas darilaring ke alveoli, dengan sifat bersih.
3)      Suara nafas normal :
        Bronchial : Normal terdengar di atas trachea atau daerah suprasternal notch. Fase ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi, dan tidak ada hentidiantara kedua fase tersebut.
        Vesikular : terdengar lembut, halus, seperti angin sepoi-sepoi. Inspirasilebih panjang dari ekspirasi, ekspirasi terdengar seperti tiupan.
        Bronchovesikular : merupakan gabungan dari suara nafas bronchial danvesikular. Suaranya terdengar nyaring dan dengan intensitas yang sedang. Inspirasi sama panjang dengan ekspirasi. Suara ini terdengar di daerahthoraks dimana bronchi tertutup oleh dinding dada.
2.5.6        Sistem musculoskeletal
1.      Cara inspeksi.
1)      Pada saat inspeksi tulang belakang, buka baju pasien untuk menampakkanseluruh tubuh.
2)      Inspeksi ukuran otot, bandingkan satu sisi dengan sisi yang lain dan amatiadanya atrofi atau hipertrofi. Kelurusan tulang belakang, diperiksa dengan pasien berdiri tegak dan membungkuk ke depan.
3)      Jika didapatkan adanya perbedaan antara kedua sisi, ukur keduanya denganmenggunakan meteran.
4)      Amati adanya otot dan tendo untuk mengetahui kemungkinan kontraktur yangditunjukkan oleh malposisi suatu bagian tubuh.
5)      Amati kenormalan susunan tulang dan adanya deformitas.
6)      Skoliosis ditandai dengan kulvatura lateral abnormal tulang belakang, bahuyang tidak sama tinggi, garis pinggang yang tidak simetris, dan skapula yangmenonjol, akan lebih jelas dengan uji membungkuk ke depan.
7)      Amati keadaan tulang untuk mengetahui adanya pembengkakan Persendian.
8)      Inspeksi persendian untuk mengetahui adanya kelainan persendian.
9)      Inspeksi pergerakkan persendian.
2.      Cara palpasia.
1)      Palpasi pada saat otot istirahat dan pada saat otot bergerak secara aktif dan pasifuntuk mengetahui adanya kelemahan (flasiditas), kontraksi tiba-tiba secarainvolunter (spastisitas)
2)      Uji kekuatan otot dengan cara menyuruh klien menarik atau mendorong tangan pemeriksa, bandingkan kekuatan otot ekstremitas kanan dengan ekstremitas kiri.
3)      Palpasi untuk mengetahui adanya edema atau nyeri tekan.
4)      Palpasi sendi sementara sendi digerakkan secara pasif akan memberikaninformasi mengenai integritas sendi. Normalnya, sendi bergerak secara halus.Suara gemletuk dapat menunjukkan adanya ligament yang tergelincir di antaratonjolan tulang. Permukaan yang kurang rata, seprti pada keadaan arthritis,mengakibatkan adanya krepitus karena permukaan yang tidak rata tersebut yangsaling bergeseran satu sama lain.
5)      Periksa adanya benjolan, rheumatoid arthritis, gout, dan osteoarthritismenimbulkan benjolan yang khas. Benjolan dibawah kulit pada rheumatoidarthritis lunak dan terdapat di dalam dan sepanjang tendon yang memberikanfungsi ekstensi pada sendi biasanya, keterlibatan sendi mempunya pola yang 34 simetris. Benjolan pada GOUT keras dan terletak dalam dan tepat disebelah kapsul sendi itu sendiri.
6)      Gunakan penentuan singkat kekuatan otot dengan skala Lovett‟s (memiliki nilai 0–  5)
0 = Tidak ada kontraksi sama sekali.
1 = Gerakan kontraksi.
2 = Kemampuan untuk bergerak, tetapi tidak kuat kalau melawantahanan ataugravitasi.
3 = Cukup kuat untuk mengatasi gravitasi.
4 = Cukup kuat tetapi bukan kekuatan penuh.
5        = Kekuatan kontraksi yang penuh.
3.      Cara perkusia.
1)      Refleks patela, Tendon patella (ditengah-tengah patella dan tuberositas tibiae)dipukul dengan refleks hammer. Respon berupa kontraksi otot quadricepsfemoris yaitu ekstensi dari lutut.
2)      Refleks biceps, lengan difleksikan terhadap siku dengan sudut 90º, supinasi danlengan bawah ditopang pada alas tertentu (meja periksa). Jari pemeriksaditempatkan pada tendon m. biceps (diatas lipatan siku), kemudian dipukuldengan refleks hammer. Normal jika timbul kontraksi otot biceps, sedikitmeningkat bila terjadi fleksi sebagian dan gerakan pronasi. Bila hyperaktif makaakan terjadi penyebaran gerakan fleksi pada lengan dan jari-jari atau sendi bahu.
3)      Refleks triceps, lengan ditopang dan difleksikan pada sudut 90º, tendon tricepsdiketok dengan refleks hammer (tendon triceps berada pada jarak 1-2 cm diatasolekranon). Respon yang normal adalah kontraksi otot triceps, sedikitmeningkat bila ekstensi ringan dan hyperaktif bila ekstensi siku tersebutmenyebar keatas sampai otot-otot bahu atau mungkin ada klonus yangsementara.
4)      Refleks achilles, posisi kaki adalah dorsofleksi, untuk memudahkan pemeriksaan refleks ini kaki yang diperiksa bisa diletakkan/disilangkan diatastungkai bawah kontralateral.Tendon achilles dipukul dengan refleks hammer, respon normal berupa gerakan plantar fleksi kaki.
5)      Refleks abdominal, dilakukan dengan menggores abdomen diatas dan dibawahumbilikus. Kalau digores seperti itu, umbilikus akan bergerak keatas dan kearahdaerah yang digores.
6)      Refleks Babinski, merupakan refleks yang paling penting . Ia hanya dijumpai pada penyakit traktus kortikospinal. Untuk melakukan test ini, goreslah kuat-kuat bagian lateral telapak kaki dari tumit kearah jari kelingking dan kemudian melintasi bagian jantung kaki. Respon Babinski timbul jika ibu jari kaki melakukan dorsifleksi dan jari-jari lainnya tersebar. Respon yang normal adalahfleksi plantar semua jari kaki.
2.5.6        Sistem endokrin
1.      Cara inspeksi
1)      Warna kulit : Hiperpigmentasi ditemukan pada klien addison desease ataucushing syndrom. Hipopigmentasi terlihat pada klien diabetes mellitus,hipertiroidisme, hipotiroidisme.
2)      Wajah : Variasi, bentuk dan struktur muka mungkin dapat diindikasikan dengan penyakit akromegali mata.
3)      Kuku dan rambut : Peningkatan pigmentasi pada kuku diperlihatkan oleh kliendengan penyakit addison desease, kering, tebal dan rapuh terdapat pada penyakithipotiroidisme, rambut lembut hipertyroidisme. Hirsutisme terdapat pada penyakit cushing syndrom.
4)      Inspeksi ukuran dan proporsional struktur tubuh klien : Orang jangkung, yangdisebabkan karena insufisiensi growth hormon. Tulang yang sangat besar, bisamerupakan indikasi akromegali.
5)      Tanda trousseaus dan tanda chvoteks : Peningkatan kadar kalsium tangan dan jari-jari klien kontraksi (spasme karpal).
2.      Cara palpasia.
1)      Kulit kasar, kering ditemukan pada klien dengan hipotiroidisme. Dimanake lembutan dan bilasan kulit bisa menjadi tanda pada klien dengan hipertiroidisme. Lesi pada ekstremitas bawah mengindikasikan DM.
2)      Palpasi kelenjar tiroid (tempatkan kedua tangan anda pada sisi lain pada trachea dibawah kartilago thyroid. Minta klien untuk miringkan kepala ke kanan Mintaklien untuk menelan. Setelah klien menelan. pindahkan pada sebelah kiri.selama palpasi pada dada kiri bawah) : Tidak membesar pada klien dengan penyakit graves atau goiter.
3.      Cara auskultasi
Auskultasi pada daerah leher diata tiroid dapat mengidentifikasi bunyi “bruit“. Bunyi yg dihasilkan oleh karena turbulensi pada pembuluh darah tiroidea. Normalnya tidak ada bunyi.
2.5.7        Sistem Neurologi
1.      Cara inspeksia.
1)      Kaji LOC (level of consiousness) atau tingkat kesadaran : dengan melakukan pertanyaan tentang kesadaran pasien terhadap waktu, tempat dan orang.
2)      Kaji status mental.
3)      Kaji adanya kejang atau tremor.
2.      Cara palpasia.
1)      Kaji tingkat kenyamanan, adanya nyeri dan termasuk lokasi, durasi, tipe dan pengobatannya.
2)      Kaji fungsi sensoris dan tentukan apakah normal atau mengalami gangguan.Kaji adanya hilang rasa, rasa terbakar/panas dan baal.
3)      Kaji fungsi motorik seperti : genggaman tangan, kekuatan otot, pergerakan dan postur
3.      Cara perkusia.
1)      Refleks patela, diketuk pada regio patela (ditengah tengah patela).
2)      Refleks achilles, dipukul dengan refleks hammer, respon normal berupa gerakan plantar fleksi kaki.
2.5.8        Sistem Reproduksi
1.      Cara inspeksia.
1)      Keadaan umum, pemeriksaan khusus obstetri, pemeriksaan dalam, dan pemeriksaan tambahan.
2)      Inspeksi tentang status gizi : anemia, ikterus.
3)      Kaji pola pernapasan (sianosis, dispnea).
4)      Apakah terdapat edema, bagaimana bentuk dan tinggi badan, apakah ada perubahan pigmentasi, kloasma gravidarum, striae alba, striae lividae, striaenigra, hiperpigmentasi, dan areola mamma.
2.      Cara palpasia.
1)      Palpasi menurut Leopold I-IV
2)      Serviks, yaitu untuk mengetahui pelunakan serviks dan pembukaan serviks.
3)      Ketuban, yaitu untuk mengetahui apakah sudah pecah atau belum dan apakahada ketegangan ketuban.
4)      Bagian terendah janin, yaitu untuk mengetahui bagian apakah yang terendahdari janin, penurunan bagian terendah, apakah ada kedudukan rangkap, apakahada penghalang di bagian bawah yang dapat mengganggu jalannya persalinan.
5)      Perabaan forniks, yaitu untuk mengetahui apakah ada bantalan forniks danapakah bagian janin masih dapat didorong ke atas.
3.      Cara auskultasi
Auskultasi untuk mengetahui bising usus, gerak janin dalam rahim, denyut jantung janin, aliran tali pusat, aorta abdominalis, dan perdarahan retroplasenter
Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data yang sistematif dan komprehensif, memastikan/membuktikan hasil anamnesa, menentukan masalah dan merencanakan tindakan keperawatan yang tepat bagi klien. Pemeriksaan fisik mutlak dilakukan pada setiap klien, tertama pada klien yang baru masuk ke tempat pelayanan kesehatan untuk di rawat, secara rutin pada klien yang sedang di rawat, sewaktu-waktu sesuai kebutuhan klien. Jadi pemeriksaan fisik ini sangat penting dan harus di lakukan pada kondisi tersebut, baik klien dalam keadaan sadar maupun tidak sadar.
Pemeriksaan fisik menjadi sangat penting karena sangat bermanfaat, baik untuk untuk menegakkan diagnosa keperawatan, memilih intervensi yang tepat untuk proses keperawatan, maupun untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan.
Agar pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan baik, maka perawat harus memahami ilmu pemeriksaan fisik dengan sempurna dan pemeriksaan fisik ini harus dilakukan secara berurutan, sistematis, dan dilakukan dengan prosedur yang benar





Harismi, A. 2020. Pemeriksaan Fisik Head to Toe Pemeriksaan Kesehatan Menyeluruh. https://www.sehatq.com/artikel/pemeriksaan-fisik-head-to-toe-pemeriksaan-kesehatan-menyeluruh.(online)

Husnin, A. 2020. Makalah Pemeriksaan Fisik. https://www.academia.edu/12672900/Makalah_pemeriksaan_fisik.(online)

Manalu, NV. 2016. Pelaksanaan Pemeriksaan Fisik. https://scholar.google.co.id/citations?user=rjhwkdUAAAAJ&hl=e. (online)


Taufiq, RI. Konsep Pemeriksaan Fisik dan Proses Keperawatan.https://www.academia.edu/8425389/Konsep_Pemeriksaan_Fisik_dan_Proses_Keperawatan.(online)

Blogger. 2016. Makalah Keperawatan. http://sumbermakalahkeperawatan.blogspot.com.(online)